Sabtu, 18 Juni 2022

SILABUS

 Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H/PAI

Makul: Magang 1


SILABUS


      Dari beberapa referensi yang sudah saya baca bahwasanya Sebelum membahas rencana pembelajaran, terlebih dahulu harus dipahami tentang silabus dan dan langkah pengembangannya, karena rencana pengajaran dikembangkan berdasarkan rumusan silabus yang telah ditetapkan. Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai ”garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi palajaran”( Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam rangkapencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Yulaelawati, 2004:123)[1] Seperti kita ketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan standar kompetensi yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian standar kompetensi. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan: - Apa yang akan dihajarkan (standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pelajaran)? - Bagaimana cara mengajarkannya (pengalaman belajar, metode, media)- Bagaimana cara mengetahui pencapaiannya (evaluasi, atau sistem penilaian)?Dari gambaran tersebut dapat dinyatakan bahwa silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Selain itu, silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi rencana pembelajaran.

Komponen-komponen Silabus

Dalam buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sering disebut dengan singkatannya yaitu KTSP, dikatakan bahwa format silabus paling tidak memuat sembilan komponen yaitu :

1. Identifikasi

Pada komponen identifikasi adalah nama sekolah, nama mata pelajaran, kelas, dan semester.

2. Standar Kompetensi

Pada Komponen standar kompetensi, yang perlu dikaji adalah standar kompetensi mata pelajaran yang bersangkutan dengan memperhatikan hal-hal berikut.

- Urutan berdasar hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi

- Keterikatan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran.

- Keterikatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran

3. Kompetensi Dasar

Pada komponen kompetensi dasar, yang perlu dikaji adalah kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut.

- Urutan berdasar hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi

- Keterikatan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran

- Keterikatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran

4. Materi Pokok

Pada komponen materi pokok, yang dilakukan adalah mengdidintifikasi materi pokok dengan mempertimbangkan:

- Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spriritual peserta didik;

- Kebermanfaatan bagi peserta didik;

- Struktur keilmuan;

- Kedalaman dan keluasan materi

- Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan

4. Pengalaman Belajar

Pada komponen pengalaman belajar, yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu berikut.

- Pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik,

- Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik,

- Rumusannya mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik

5. Indikator

Pada komponen indikator, yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu berikut.

- Indikator merupakan pembelajaran dari KD yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan/atau respons yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik.

- Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

- Rumusan indikator menggunakan rumusan kerja operasional yang terukur dan /atau dapat diobservasi.

- Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

7. Jenis Penilaian

Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek stsu produk, penggunaan portofolio, penilaian diri, dan lain-lain. Jenis penilaian yang dipilih bergantung pada rumusan indikatornya.

8. Alokasi Waktu

Pada komponen alokasi waktu, hal-hal berikut perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.

- Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.

- Alokasi waktu yang dicantumkandalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar.

9. Sumber belajar

Pada komponen sumber belajar, hal-hal berikut yang perlu dipertimbangkan adalah.

- Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

- Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

- Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.


Sabtu, 11 Juni 2022

SISTEM EVALUASI

 Nama : Nur Khalis

Nim : 12001314

Kelas : 4H

Prodi : PAI

Makul : magang 1


SISTEM EVALUASI


Dari berbagai sumber yang telah saya baca dan pahami dapat di simpulkan bahwasanya Sistem Evaluasi mencangup banyak konsep Dasar antara lainEvaluasi memang cukup sulit untuk dijelaskan. Itu sebabnya, para ahli turut menjelaskan, dengan pendapat serta pandangan masing-masing.Secara garis besar, pengertian evaluasi dalam pendidikan adalah penilaian terhadap suatu kualitas Evaluasi juga dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan.Maka perlu dilakukan proses evaluasi yang sistematis, guna menentukan sejauh mana tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.

Jenis Evaluasi

Evaluasi memiliki dua jenis berbeda, yakni formatif dan sumatif. Berikut pembahasan tentang jenis evaluasi, selengkapnya:

1. Evaluasi Formatif

Penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, dari kegiatan atau program kerja yang telah dilaksanakan.Biasanya, evaluasi ini dilakukan secara rutin, setiap bulan atau per tahun.Sesuai dengan keperluan informasi hasil penilaian, di mana manfaatnya, memberikan umpan balik kepada manajer program, terkait kemajuan yang telah dicapai.Selain itu, juga untuk mengetahui, apa saja hambatan yang dihadapi selama kegiatan pun program kerja berlangsung.

2. Evaluasi Sumatif

Penilaian terhadap hasil yang telah dicapai dari kegiatan atau program kerja, secara keseluruhan, dari awal hingga akhir.Evaluasi jenis ini dilakukan di akhir kegiatan, dengan jangka waktu yang ditetapkan.Jika program kerja atau kegiatan memiliki jangka waktu enam bulan, maka evaluasi sematif, juga dilakukan menjelang akhir bulan tersebut.Sementara untuk evaluasi dari dampak kegiatan atau program kerja, bisa dilakukan usai proyek berakhir, dengan memperhitungkan efeknya yang sudah nyata terlihat.Mengapa ada tujuan evaluasi? Sebab, kegiatan ini dilakukan bukan tanpa tujuan. Ada pencapaian yang ingin tuju.Secara khusus, terdapat beberapa tujuan evaluasi, antara lain:

1.Mengetahui sebaik apa tingkat penguasaan seseorang terhadap kompetensi yang telah ditetapkan.

2.Mengetahui kesulitan apa saja yang dialami seseorang dalam kegiatan, hingga bisa dilakukan diagnosis, serta memungkinkan remedial teaching (perbaikan).

3.Mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas suatu metode, media, serta sumber daya lain, dalam pelaksanaan kegiatan.

Sebagai hasil dan informasi penting bagi pelaksana evaluasi, untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

4.Menjadikannya sebagai acuan, di masa mendatang, dalam mengambil keputusan.

Fungsi Evaluasi

Fungsi evaluasi bermanfaat bagi pihak yang melakukan pun yang dievaluasi, seperti beberapa di antaranya:

1. Diagnosa

Bertujuan untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan seseorang dalam bidang kompetensi tertentu. Contoh kelebihan dan kekurangan seorang siswa, dalam mata pelajaran yang ia dapat di sekolah.

2. Penempatan

Bertujuan untuk mengetahui di mana posisi terbaik seseorang dalam suatu bidang tertentu. Contoh, posisi terbaik apa untuk seorang karyawan, sesuai bidang, di perusahaan.

3. Pengukuran Keberhasilan

Mengukur tingkat keberhasilan suatu program, termasuk metode dan sarana yang digunakan, serta pencapaian tujuan.

4. Selektif

Menyeleksi seseorang, apakah memiliki komptensi sesuai standar yang ditetapkan. Contoh, menentukan seseorang diterima kerja atau tidak, naik jabatan atau tidak, dan lainnya

Metode Evaluasi

Evaluasi bisa dilakukan dengan berbagai metode, tergantung pada bidang yang akan dievaluasi, serta hasil yang di-inginkan.

1. Metode 360 Derajat

Mendapatkan umpan balik (feecback) ganda, yakni selain dari pimpinan perusahaan/instansi, juga berasal dari kolega hingga konsumen.

Prosesnya dilakukan setiap tahun, kepada seluruh elemen organisasi, dengan tujuan:

1.Memberikan umpan balik soal kelebihan dan kekurangan kinerja organisasi;

2.Mengenali arah strategis pengembangan organisasi;

3.Meningkatkan kolaborasi, saling pengertian antara unit organisasi;

4.Memberikan penghargaan dan insentif atas pencapaian prestasi; serta

5.Mengembangkan pembelajaran dalam hal keterbukaan—menerima kritik.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan, dalam metode evaluasi 360 deraja.

Anda butuh informasi dari para konsumen internal dan eksternal, karyawan unit organisasi, serta jajaran manajemen, karena proses evaluasi perlu keterlibatan seluruh stakeholder.

Pengumpulan Informasi

Ada lima metode yang perlu dilakukan

1.Evaluasi dari pelanggan eksternal: melakukan survei kepuasan pelanggan tentang kemudahan akses, sisi administrasi, kenyamanan lingkungan, sikap karyawan, hingga cara menyikapi outcome. Dengan menyediakan kotak kritik dan saran.

2.Evaluasi antar-unit internal: mengevaluasi kinerja, meliputi sepuluh hal di antaranya, kualitas pelayanan, partisipasi, profesionalisme, peningkatan kegiatan, dan semangat kelompok. Setiap poin diberi nilai 1 (terburuk) hingga 10 (sempurna).

3.Evaluasi mandiri: mewajibkan setiap bidang dalam organisasi melakukan evaluasi internal, terhadap kinerja masing-masing (self-evaluation), menggunakan penilaian serta alat yang sama, dengan evaluasi antar-unit.

4.Evaluasi manajemen: dilakukan oleh tim—manajer fungsional, manajer umum, dan pimpinan eksekutif—dengan memberikan feedback atas capaian yang berada di bawah tanggung jawabnya.

5.Evaluasi manajemen senior: dilakukan oleh seluruh unit organisasi terhadap kinerja, para manajer senior, termasuk pimpinan tertinggi. Dilakukan kepada kepemimpinan, strategi perencanaan, komunikasi, gaya manajemen, hubungan eksternal, hingga semangat kelompok.

Tahap Evaluasi

Evaluasi memiliki tahapan yang harus diikuti, meski tak selalu sama, tetapi berbagai tahapan penting untuk dilakukan, berkaitan dengan hasil akhir dari proses evaluasi itu sendiri.

1. Menentukan Apa Saja yang Akan Dievaluasi

Dapat mengacu pada suatu program kerja atau kegiatan lainnya, di mana terdapat faktor-faktor yang bisa serta perlu dievaluasi.

Tetapi secara umum, yang menjadi prioritas adalah hal-hal yang menjadi kunci utama (key-success).

2. Merancang Kegiatan Evaluasi

Desain, evaluasi seperti apa yang akan dilaksanakan, agar data-data yang dibutuhkan, tahapan kerja, serta siapa saja yang dilibatkan, dan apa saja yang dihasilkan, menjadi jelas, sebelum evaluasi berlangsung.

3. Pengumpulan Data Evaluasi

Pengumpulan data dapat dilakukan secara efisien dan efektif, sesuai kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku, dan kebutuhan serta kemampuan.

4. Analisis Data dan Pengolahannya

Menganalisis data yang diterima, bisa berupa pengelompokan agar lebih mudah di-analisis dengan menggunakan alat penganalisis yang sesuai.

Sehingga menghasilkan fakta terpercaya, dan hasil analisis, kemudian dapat dibandingkan dengan harapan atau rencana awal.

5. Pelaporan Hasil Evaluasi

Tahapan evaluasi terakhir adalah pelaporan hasil, untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan.

Sebab, hasil evaluasi itu harus di-dokumentasikan secara tertulis, agar bisa dibaca dan bermanfaat sebagaimana mestinya.

Contoh Evaluasi

Agar lebih mudah memahami evaluasi, mari menyelami beberapa contoh, lengkap dengan penjelasannya berikut ini:

Tes Objektif

Contoh evaluasi pembelajaran disebut juga dengan dikotomi, karena jawabannya antara benar atau salah, dan penilaian skornya antara 1 atau 0.Disebut objektif, karena siapapun yang mengoreksi jawaban pada tes ini, hasinya akan tetap sama, sebab terdapat kunci jawaban; jelas.

Terdapat beberapa bentuk dari tes jenis ini, di antaranya:

• Benar-salah,

• Pilihan ganda, dan

• Mencocokan hingga melengkapi jawaban atau jawaban singkat.

Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Whiterington, soal evaluasi pembelajaran.Itulah penjelasan soal pengertian evaluasi, hingga tahapan-tahapannya. Di mana secara umum, evaluasi dapat diartikan sebagai proses sistematis.Dalam membuat, memeriksa, menentukan, atau menyediakan informasi, terhadap program kerja pun kegiatan yang dilakukan.Tujuannya, lagi-lagi untuk mengetahui, sejauh mana tujuan dari program yang telah dilakukan tercapai. Sekian, semoga bermanfaat.


Sabtu, 04 Juni 2022

STRATEGI PEMBELAJARAN

 Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H

Makul: Magang 1


Strategi Pembelajaran


Dari beberapa buku/referensi yang sudah saya amati bahwasanya strategi pembelajaran adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan. Strategi yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran.

Dimana pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efesiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran adalah pendidik (perorangan dan atau kelompok) serta peserta didik (perorangan, kelompok dan atau komunitas) yang berinteraksi edukatif antara satu dengan yang lainnya. Isi kegiatannya adalah bahan/materi belajar yang bersumber dari kurikulum suatu program pendidikan. Proses kegiatan adalah langkah-langkah yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Sumber pendukung kegiatan pembelajaran mencakup fasilitas dan alat-alat bantu pembelajaran.

Dengan demikian strategi pembelajaran mencakup penggunaan pendekatan, metode dan teknik, bentuk media, sumber belajar, pengelompokan peserta didik, untuk mewujudkan interaksi edukasi antara pendidik dengan peserta didik, antar peserta didik, dan terhadap proses, hasil, dan/atau dampak kegiatan pembelajaran.

Dalam hal ini, strategi pembelajaran di artikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu, yakni tujuan pembelajaran.

Stretegi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang dijabarkan dari pendangan falsafah atau teori belajar tertentu. Berikut pendapat beberapa ahli berkaitan dengan pengertian strategi pembelajaran.

Menurut Kozma dalam Majid (2015:7) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan Wina Sanjaya dalam Majid (2015 menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan atau rangkaian kegiatan yang dipilih guru mencakup penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya yang ditujukan untuk siswa, yang bertujuan agar tercapainya tujuan pembelajaran.

Hal ini bahwa berarti di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja, belum sampai tindakan. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya arah dari semua keputusan penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar, semua diarahkan dalam pencapaian tujuan.

Jenis jenis Strategi Pembelajaran

Strategi Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk didalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktik, pengajaran eksplisit, praktek dan latihan, serta demonstrasi. Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangankan ketrampilan langkah demi langkah.

Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (Indirect Instruction)

Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang tinggi dalam observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis.Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resourse person).Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan memungkinkan memberikan umpanbalik kepada siswa ketika meraka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mengisyaratkan bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.

Strategi Pembelajaran Interaktif (Interactive Intruction)

Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi diantara peserta didik. Seaman dan Fellenz (1989) mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dalam berfikir.

Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokan dan metode-metode interaktif. Didalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengkerjaan tugas berkelompok, dan kerja sama siswa secra berpasangan.

Strategi Pembelajaran melalui Pengalaman (Experiential Learning)

Strategi pembelajaran melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuensi induktif, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada aktivitas.Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar, dan bukan hasil belajar.

Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.

Strategi Pembelajaran Mandiri

Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagan dari kelompok kecil. Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta belum dewasa, sulit menggunakan pembelajaran mandiri.

Istilah Terkait dalam Strategi Pembelajaran

Dikenal beberapa istilah dalam pembelajaran yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah tersebut yaitu sebagai berikut:

Pendekatan Pembelajaran

Istilah pendekatan berasal dari bahasa inggris “approach” yang memiliki beberapa arti, diantaranya diartikan dengan “pendekatan”. Dalam dunia pengajaran, kata approach lebih tepat diartikan a way of begining something (cara memulai sesuatu). Oleh karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan sebagai “cara memulai pendekatan”.

Pengertian pendekatan pembelajaran secara tegas belum ada kesepakatan dari para ahli pendidikan. Namun beberapa ahli mencoba menjelaskan tentang pendekatan pembelajaran (instructional approach), misalnya yang ditulis oleh Gladene Robertson dan Hellmut Lang (1984: 5). Menurutnya, pendekatan pembelajaran dapat dimaknai menjadi 2 pengertian, yaitu pendekatan pembelajaran sebagai dokumen tetap, dan pendekatan pembelajaran sebagai kajian yang terus berkembang. Pendekatan pembelajaran sebagai dokumen tetap dimaknai sebagai suatu kerangka umum dalam praktek profesional guru, yaitu serangkaian dokumen yang dikembangkan untuk mendukung pencapaian kurikulum. Hal tersebut berguna untuk:

- Mendukung kelancaran guru dalam proses pembelajaran;

- Membatu para guru menjabarkan kurikulum dalam praktik pembelajaran di kelas;

- Sebagai panduan bagi guru dalam menghadapi perubahan kurikulum; dan

- Sebagai bahan masukan bagi para penyusunan kurikulum untuk mendesain kurikulum dan pembelajaran yang terintregasi.

Pendekatan pembelajaran sebagai bahan kajian yang terus berkembang, oleh Gladene Robertson dasn Hellmet Lang dimaknai selain sebagai kerangka umum untuk praktek profesional guru, juga dimaksudkan sebagai studi komperhensif tentang praktik pembelajaran maupun petunjuk pelaksanaannya. Selain itu, dokumen tersebut juga dimaksudkan untuk mendorong para guru agar:

- Mengkaji lebih jauh tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lainnya;

- Menjadi bahan refleksi tentang pembelajaran yang sudah dilakukannya:

- Merupakan seni, seperti hanyya ilmu mengajar yang terus berkembang: dan

- Sebagai katalisator untuk mengembangkan profesional guru lebih lanjut.

Pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang skenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Diagram berikut memperliharkan dengan lebih jelas tentang hubungan antara model pembelajaran, pendekatan, stategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan keterampilan mengajar.

Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat diisi oleh beragam muatan mata pelajaran, sesuai dengan karakteristik kerangka dasarnya. Model pembelajaran ini dapat muncul dalam beragam bentuk dan variasinya sesuai dengan landasan filosofis dan pedagogis yang melatar belakanginya.

Arends (1997) menyatakan “ the term teaching model refers to a particural approach to instruction that includes its goals, syntax environment, and management system” (istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengelolaannya). Dengan demikian, maka model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.

Model pembelajaran mempunyai ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedue, ciri tersebut ialah :

- Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.

- Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar.

- Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tsb dapat dilaksanakan dengan berhasil.

- Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Metode Pembelajaran

Metode menurut J.R. david dalam Teaching Strategies for College Class Room (1976) ialah ”a way in achieving something” (cara untuk mencapai sesuatu). Untuk melaksanakan suatu strategi, digunakan seperangkat metode pengeajaran tertentu. Dalam pengertian demikian maka metode pengajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi pembelajarann. Unsur seperti sember belajar, kemampuan guru dan siswa, media pendidikan, materi pengajaran, organisasi, waktu tersedia, kondisi kelas, dan lingkungan merupakan unsur-unsur yang mendukung strategi pembelajaran. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah at-thariq (jalan-cara).

Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas dimana guru dan siawa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tetutup kemungkinan beberapa metode berbeda dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

Teknik Pembelajaran

Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang siswanya jumlah siswanya terbatas. Demikian pula dengan pengunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik, meskipun dalam koridor metode yang sama.

Taktik Pembelajaran

Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalnya, terdapat dua orang yang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi , semetara itu yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang tersebut.

Dalam gaya pembelajaran, akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru. Hal ini sesuai dengan kemampuan, pengalamann, dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu dan sekaligus juga seni (kiat).

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh, maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran.

Unsur-unsur Strategi Pembelajaran

Pembuatan suatu strategi pembelajaran meliputi keseluruhan penggunaan infoemasi yangg telah dikumpulkan dan menghasilkan suatu rencana yang efektif untuk menyajikan pengajaran bagi peserta didik. Kegiatan belajar merupakan suatu proses penyampaian informasi oleh fasilitator yaitu guru kepada sasaran kegiatan tersebut yaitu siswa. Dalam menyampaikan informasi tersebut diperlukan suatu strategi supaya informasi yang diberikan dapat diserap oleh siswa secara maksimal.

Rangkaian/keurutan dan pengelompokan konten

Rangkaian/keurutan konten

Rangkaian/keurutan konten merupakan komponen pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan strategi pembelajaran. Dalam elemen ini pengajar mengelompokan konten yang merujuk pada keurutan sistem. Pengelompokan dimulai dari yang rendah ke tinggi. Dimulai dari kiri ke kanan semakin meninggi tingkatannya.

Pengelompokkan Pembelajaran

Hal yang tak kalah pentingnya dengan elemen nomor satu ini adalah pengelompokkan pembelajaran. Disini pengajar diminta untuk mengelompokkan kegiatan. Apakah akan menyampaikan informasi dalam satu waktu atau mengelompokkan beberapa tujuan pembelajaran yang saling berkaitan. Untuk menentukan hal itu perlu diperhatikan:

Tingkat usia para peserta didik

Kompleksitas materi

Jenis pembelajaran yang berlangsung

Seberapa bervariasimya kegiatan pengajaran Jumlah waktu yang diperlukan untuk menyampaikan tujuan

Komponen Belajar

Elemen berikutnya adalah penjelasan tentang komponen pembelajaran untuk seperangkat beba pembelajaran. Mengajar merupakan hal yang disengaja dirancang sedemikian rupa guna untuk penyampaian informasi dari guru ke siswa untuk mendukung proses pembelajaran internal.


Sabtu, 28 Mei 2022

PERANGKAT PEMBELAJARAN

 

Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H/PAI

Makul: Magang 1

 

PERANGKAT PEMBELAJARAN

 

Dari beberapa referensi yang sudah saya amati bahwasanya pembelajaran merupakan sarana yang dapat memberikan Kemudahan guru dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selain itu dalam perangkat pembelajaran terdapat strategi untuk belajar Dan mengajar. Perangkat pembelajaran yang baik adalah yang Direncanakan dengan seksama. Perangkat pembelajaran yang Dikembangkan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran dengan Pendekatan pembelajaran tematik integrat pendekatan pembelajaran tematik integratif. Nah, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam kurikulum 2013 diatur dalam Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013. Standar kompetensi lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiyaan. Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Standar Isi

Standar isi merupakan kriteria mengenai ruang lingkup materi dan Tingkat kompetensi peserta didik untuk mencapai kompetensi lulusan Pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi disesuaikan dengan substansi tujuan pendidikan Nasional dalam domain sikap spiritual dan sikap sosial, pengetahuan, Dan keterampilan. Oleh karena itu, standar isi dikembangkan untuk Menentukan kriteria ruang lingkup dan tingkat kompetensi yang sesuai Dengan kompetensi lulusan yang dirumuskan pada standar kompetensi Lulusan, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Standar Proses

Standar proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan Pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan Dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan.

Standar Penilaian

Standar penilaian pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, Tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen Penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar Dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan Pendidikan menengah.

Kompetensi inti pada K-13 merupakan tingkat kemampuan Untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus di miliki Peserta didik pada setiap tingkat kelas. Pada ayat 1 dijelaskan bahwa Kompetensi terdiri dari kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, Pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti bukan hanya untuk diajarkan, melainkan untuk Dibentuk melalui pembelajaran berbagai kompetensi dasar dari Sejumlah mata pelajaran yang relevan.

Kompetensi dasar pada K-13 berisi kemampuan dan materi Pembelajaran untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan Pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti. Dalam buku Maulana Arafat kompetensi menurut Sanjaya ialah Perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dam sikap yang Direfleksi dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kompetensi dasar merupakan kemampuan minimal yang harus dicapai Peserta didik dalam penguasaan materi pelajaran yang di berikan Dalam kelas pada jenjang pendidikan tertentu. Selain itu Chamsiatin Menyatakn bahwa kompetensi dasar ialah sejumlah kemampuan yang Harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Dari berbagai uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Kompetensi dasar merupakan tuntutan dari kompetensi inti yang harus Dikembangkan peserta didik dalam pembelajaran, baik dalam sosial, Pengetahuan, dan keterampilan.

Indicator pencapaian kompetensi merupakan pengukur sikap Peserta didik melalui observasi untuk menunjukkan ketercapain Kompetensi dasar. Indicator pencapaian dikembangkan berdasarkan Pada kompetensi dasar dengan menggunakan kata kerja operasional (KKO).

Sabtu, 21 Mei 2022

KURIKULUM

 Nama: Nur Khalis

Nim: 12001314

Kelas:4H/PAI

Makul: Magang 1


KURIKULUM


     Dari beberapa sumber referensi yang saya baca bahwasanya banyak orang yang menganggap kurikulum berkaitan dengan bahan ajar atau buku-buku pelajaran yang harus dimiliki anak didik, sehingga perubahan kurikulum identik dengan perubahan buku pelajaran. Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku ajar, akan tetapi banyak persoalan lainnya termasuk persoalan arah dan tujuan pendidikan, persoalan materi pelajaran, serta persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan hal itu. Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani Kuno yang berasal dari kata curir dan curere. Selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan. Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun demikian, dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga kesamaan . kesamaan tersebut adalah, bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. (Sanjaya, 2008:3). Secara tminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan.

Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang Direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan Ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik Mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya ( Saylor, Alexander, Dan Lewis, 1986 ). (Hamalik, 2007:5).

Beberapa penulis kurikulum ( Johnson, 1977 dan Posner, 1982 ) Menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas , tetapi Difokuskan secara langsung pada berbagai hasil belajar yang diharapkan ( intended Learning outcomes ). Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, Dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum srbagai tujuan atau akhir Yang akan dicapai (ends). Salah satu alasan utama adalah karena hasil belajar yang Diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan Kegiatan pembelajaran. (Hamalik, 2007:6).

Sekolah bertugas memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting Bagi generasi penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggung jawab Mengidentifikasi keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan berbagai Apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak pendidik profesional Bertanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan apresiasi tersebut Sudah diinformasikan ke dalam kurikulum yang dapat disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda.

Pandangan ini berpendapat bahwa kurikuum merupakan satu kumpulan Tugas dan konsep (discrete tasks and concept) yang harus dikuasai siswa. Dalam Hal ini, diasumsikan bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri) tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah Ditetapkan sebelumnya. Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki interpretasi Behavioral yang spesifik, misalnya mempelajari suatu tugas baru atau dapat Melakukan sesuatu yang lebih baik.

Sejauh mana keberanian sekolah membangun suatu tatanan sosial yang Baru ( Dare the school build a new social order )? Pertanyaan ini merupakan judul Karya George S. Counts (1932) yang dipandang sebagai salah seorang perintis Rekonstruksionisme sosial dalam pendidikan. Ide Counts tersebut banyak Diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam dekade 1940-an dan 1950-an, yang Banyak terispirasi pemikiran Dewey.

Salah satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi kurikulum Adalah yang pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kurikulum itu Sendiri, yaitu currere. Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau Lomba (race course) kurikulum, currere merunjuk pada jalannya lomba dan Menekankan masing-masing kapasitas individu untuk merekonseptualisasi Otobiografinya sendiri.

Adapun peran kurikulum yaitu:

Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, Kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah Sebagai institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, maka dapat ditentukan Paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yakni peranan Konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan ini Sama penting dan perlu dilaksanakan secara seimbang.

1. Peranan Konservatif

2. Peranan Kritis atau Evaluatif

3. Peranan Kreatif

Tujuan dan Fungsi kurikulum

Disamping memiliki peranan, kurikulum juga mengemban fungsi tertentu. Sesuai dengan peran yang haru “dimainkan” kurikulum sebagai alat dan Pedoman pendidikan, maka isi kurikulum harus sejalan dengan tujuan Pendidikan itu sendiri. Mengapa demikian? Sebab tujuan yang harus di capai Oleh pendidikan pada dasarnya mengkristal dalam pelaksanaan perannya itu Sendiri. Dilihat dari cakupan dan tujuannya menurut McNeil (1990) isi Kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu (1) fungsi pendidikan umum (common And general education), (2) Suplementasi (suplementation), (3) eksplorasi (exploration), dan (4) Keahlian (specialization). ( Sanjaya, 2008:12 ).

Pengembangan Kurikulum

Hakikat Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting Dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan Tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan Tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus Dimiliki setiap siswa.

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

 Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada Sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Di bawah ini akan Diuraikan sejumlah prinsip yang dianggap penting.

Landasan Pengembangan Kurikulum

Ada tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni Landasan Filosofis dalam pengembangan kurikulum, Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum, Landasan Sosiologis-Teknologis dalam Pengembangan Kurikulum.Filosofis, psikologis, dan landasan sosiologis-teknologis.

Manajemen dalam Kurikulum

Pengertian Manajemen Kurikulum

Manajemen adalah proses bekerja sama antara individudan Kelompok serta sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan organisasi Adalah sebagai aktivitas majerial (Harsey, 1988:3) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi Dan bahan pelajaran serta bahan yang digunakan sebagai pedoman Penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan Tertentu (Rusman, 2009:3).

 Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan manajemen berbasis sekolah (MBS). Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, Pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum.

Prinsip Manajemen Kurikulum

 Prinsip prinsip perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun departemen pendidikan nasional, seperti USPN No.20 tahun 2003, kurikulum pola nasional pedoman penyelenggaraan program kebijaksanaan penerapan manajemen berbasis sekolah, kebijaksanaan penerapan manajemen kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan.

Fungsi manajmen Kurikulum

Meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, Pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat Ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.

Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakulikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.


Jumat, 13 Mei 2022

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H/PAI

Makul: Magang 1



          Dari beberapa referensi/buku yang sudah saya amati/baca bahwasanya Kata “character” berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggabar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal.Berakar dari pengertian seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan suatu pandangan bahwa karakter adalah pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang. Setelah melewati tahap anak-anak, seseorang memiliki karakter, cara yang dapat di ramalkan bahwa karakter seseorang berkaitan dengan perilaku yang ada disekitar dirinya. Maknanya dari pengertian pendidikan karakter yaitu merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian,bertanggung jawab. Lebih lanjut Williams (2000) menjelaskan bahwa makna dari pengertian pendidikan karakter tersebut awalnya di gunakan oleh Commission on Character Education di Amerika sebagai suatu istilah payung yang meliputi berbagai pendekatan, filosofi, dan program.pemecahan masalah, pembuatan keputusan, penyelesaian konflik meruoakan aspek yang penting dari pengembangan karakter moral. Oleh karena itu, didalam pendidikan karakter semestinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sifat-sifat tersebut secara langsung. Nah, selain itu adapun fungsi pendidikan karakter yaitu segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Pendidikan karakter berfungsi :

- Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.

- Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur.

- Menigkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Nah selain dari fungsinya, Pendidikan karakteristik juga memiliki tujuan yang mana tujuannya yaitu:

Menurut Lickona ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:

- Merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian Yang baik dalam kehidupannya.

- Merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik

- Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinyandi tempat Lain.

- Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup Dalam masyarakat yang beragam.

- Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral sosial, seperti Ketidaksopaan, ,kekerasan,pelanggaran kegiatan seksual, dan etos Kerja (belajar) yang rendah.

- Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja.

- Mengajarkan nilai-nilaai budaya merupakan bagian dari kerja peradapan.

Pendidikan bukan hanya berfungsi sekedar berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kemampuan semata, melainkan juga berfungsi untuk membentuk watak dan peradapan bangsa yang bermatabat.Dari hal ini maka sebenarnya pendidikan watak (karakter) tidak bisa ditinggalkan dalam fungsinya dalam berfungsinya pendidikan.Oleh karena itu, sebagai fungsi yang melekat pada keberadaan pendidikan nasional untuk membentuk watak dan peradapan bangsa, pendidikan karakter merupakan manisfestasi dari peran tersebut. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi tugas dari semua pihak yang terlibat dalam usaha pendidikan(pendidik).

Secara umum

1) Karakteristik anak usia sekolah dasar (SD)

Anak-anak usia sekolah ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-Anak yang usianya lebih muda. Ia senang bermain, senang bergerak, senang bekerja Dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Oleh sebab itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung Unsur permainan, mengusahakan siswa perpindah atau bergerak, bekerja atau belajar Dalam kelompok, serta memberikan kesempatan untu terlibat langsung dalam Pembelajaran.

Menurut Havighurst, tugas perkembangan anak usia sekolah dasar meliputi:

- Menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas Fisik

- Membina hidup sehat

- Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok

- Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin

- Belajar membaca, menulis, dan berhitung agar mampu berpartisipasi dalam Masyarakat

- Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berpikir efektif

- Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai

- Mencapai kemandirian pribadi

2) Karakteristik anak usia sekolah menengah (SMP)

Terdapat sejumlah karakteristik yang menonjol pada anak usia SMP ini, yaitu:

- Terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan

- Mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder.

- Kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dengan keinginan Bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan Dan bantuan dari orang tua.

- Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan Kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa

- Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat kemurahan Atau keadilan tuhan

- Reaksi dan ekspresi emosi masih stabil

- Mulai mengembangkan standard dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang Sesuai dengan dunia social

- Kecenderungan minat dan pilihan karir relative sudah lebih jelas.

3) Karakteristik anak usia remaja

Masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri (ego identity). Masa Remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu:

- Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya

- Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang Dijunjung tinggi oleh masyarakat

- Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif.

- Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.

- Memilih dan mempersiapkan karir dimasa depan sesuai dengan minat dan Kemampuannya

- Mengembangkan sikaf positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga, dan Memiliki anak.

- Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan Sebagai warga negara

- Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.

- Memperoleh seperangkat nilai dan system etika sebagai pedoman dalam Bertingkah laku

- Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas

Adapun faktor yang mempengaruhi karakteristik peserta Yaitu Faktor faktor yang berasal dari dalam diri individu, Faktor yang berasal dari luar diri individu, dan Faktor-faktor umum.

Faktor –faktor yang berasal dari dalam diri individu:

- Bakat atau pembawaan

- Sifat-sifat keturunan

- Dorongan dan instink

Faktor yang berasal dari luar diri individu:

- Makanan

- Ekonomi

- Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga

Faktor-faktor umum:

- Intelegensi

- Kesehatan

- Ras

Nah, adapun Perbedaan Individu Peserta Didik Secara umum, perbedaan individual dibedakan atas dua, yaitu perbedaaan secara vertikal dan perbedaan secara horizontal.Perbedaaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti bentuk, tinggi, besar, kekuatan, dan sebagainya.Sedangkan perbedaan horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi, temperamen, dan sebagainya.

MUNGKIN HANYA ITU YANG DAPAT SAYA SAMPAIKAN DALAM MINGGU INI, SEE YOU NEXT WEEK!


Sabtu, 23 April 2022

4 KOMPETENSI GURU PROFESIONAL

 Nama : Nur Khalis

Nim : 12001314

Kelas : 4H

Prodi : PAI

Makul : Magang 1

 




4 Kompetensi Guru Profesional

        Dari beberpa sumber yang telah saya baca dapat di pahami 4 Kompetensi Guru Profesional yang telah tercantum dalam UU.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pasal 35 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa standar nasional pendidikan terdiri dari isi, standar proses, standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, dan standar pembiayaan harus ditingkatkan secara berkala dan berencana.Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang dan Dosen, menyebutkan bahwa seorang guru adalah pendidik profesional yang tugas utamanya adalah mendidik, membimbing, mengajar dan menilai.Teacher’s competency atau kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru untuk melakukan tugas dan kewajibannya dengan layak dan bertanggung jawab.Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pasal 35 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa standar nasional pendidikan terdiri dari isi, standar proses, standar pengelolaan, standar penilaian pendidikan, dan standar pembiayaan harus ditingkatkan secara berkala dan berencana.Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa seorang guru adalah pendidik profesional yang tugas utamanya adalah mendidik, membimbing, mengajar, menilai, melatih, dan mengevaluasi peserta didik mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan formal.Guru sebagai learning agent (agen pembelajaran) yaitu guru berperan sebagai fasilitator, pemacu, motivator, pemberi inspirasi, dan perekayasa pembelajaran bagi peserta didik.Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 pasal 8, kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang akan didapatkan jika mengikuti pendidikan profesi.

Kompetensi Kepribadian

Kompetensi guru yang pertama adalah kompetensi kepribadian. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang dapat mencerminkan kepribadian seseorang yang dewasa, arif dan berwibawa, mantap, stabil, berakhlak mulia, serta dapat menjadi teladan yang baik bagi peserta didik.

Kompetensi kepribadian dibagi menjadi beberapa bagian, meliputi:

Kepribadian yang stabil dan mantap. Seorang guru harus bertindak sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat, bangga menjadi seorang guru, serta konsisten dalam bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Kepribadian yang dewasa. Seorang guru harus menampilkan sifat mandiri dalam melakukan tindakan sebagai seorang pendidik dan memiliki etos kerja yang tinggi sebagai guru.

Kepribadian yang arif. Seorang pendidik harus menampilkan tindakan berdasarkan manfaat bagi peserta didik, sekolah dan juga masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan melakukan tindakan.

Kepribadian yang berwibawa. Seorang guru harus mempunyai perilaku yang dapat memberikan pengaruh positif dan disegani oleh peserta didik.

Memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan. Seorang guru harus bertindak sesuai dengan norma yang berlaku (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong) dan dapat diteladani oleh peserta didik.Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan seorang guru dalam memahami peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, pengembangan peserta didik, dan evaluasi hasil belajar peserta didik untuk mengaktualisasi potensi yang mereka miliki.

Kompetensi pedagogik dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:

Dapat memahami peserta didik dengan lebih mendalam. Dalam hal ini, seorang guru harus memahami peserta didik dengan cara memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian, perkembangan kognitif, dan mengidentifikasi bekal untuk mengajar peserta didik.

Melakukan rancangan pembelajaran. Guru harus memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran, seperti menerapkan teori belajar dan pembelajaran, memahami landasan pendidikan, menentukan strategi pembelajaran didasarkan dari karakteristik peserta didik, materi ajar, kompetensi yang ingin dicapai, serta menyusun rancangan pembelajaran.

Melaksanakan pembelajaran. Seorang guru harus dapat menata latar pembelajaran serta melaksanakan pembelajaran secara kondusif.

Merancang dan mengevaluasi pembelajaran. Guru harus mampu merancang dan mengevaluasi proses dan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan dengan menggunakan metode, melakukan analisis evaluasi proses dan hasil belajar agar dapat menentukan tingkat ketuntasan belajar peserta didik, serta memanfaatkan hasil penilaian untuk memperbaiki program pembelajaran.

Mengembangkan peserta didik sebagai aktualisasi berbagai potensi peserta didik. Seorang guru mampu memberikan fasilitas untuk peserta didik agar dapat mengembangkan potensi akademik dan nonakademik yang mereka miliki.

Kompetensi Sosial

Kompetensi guru selanjutnya adalah kompetensi sosial. Kompetensi sosial yaitu kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru untuk berkomunikasi dan bergaul dengan tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua peserta didik, dan masyarakat di sekitar sekolah.

Kompetensi sosial meliputi:

Memiliki sikap inklusif, bertindak obyektif, dan tidak melakukan diskriminasi terhadap agama, jenis kelamin, kondisi fisik, ras, latar belakang keluarga, dan status sosial

Guru harus dapat berkomunikasi secara santun, empatik, dan efektif terhadap sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua, serta masyarakat sekitarGuru dapat melakukan adaptasi di tempat bertugas di berbagai wilayah Indonesia yang beragam kebudayaannyaGuru mampu melakukan komunikasi secara lisan dan tulisan.

Kompetensi Profesional

Kompetensi guru yang terakhir adalah kompetensi profesional. Kompetensi profesional yaitu penguasaan terhadap materi pembelajaran dengan lebih luas dan mendalam. Mencakup penguasaan terhadap materi kurikulum mata pelajaran dan substansi ilmu yang menaungi materi pembelajaran dan menguasai struktur serta metodologi keilmuannya.

Kompetensi profesional meliputi:

Penguasaan terhadap materi, konsep, struktur dan pola pikir keilmuan yang dapat mendukung pembelajaranyang dikuasaiPenguasaan terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap mata pelajaran atau bidang yang dikuasaiMelakukan pengembangan materi pembelajaran yang dikuasai dengan kreatifMelakukan pengembangan profesionalitas secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan yang reflektifMenggunakan teknologi dalam berkomunikasi dan melakukan pengembangan diri.

SILABUS

 Nama: Nur Khalis NIM: 12001314 Kelas: 4H/PAI Makul: Magang 1 SILABUS       Dari beberapa referensi yang sudah saya baca bahwasanya Sebelum ...