Sabtu, 21 Mei 2022

KURIKULUM

 Nama: Nur Khalis

Nim: 12001314

Kelas:4H/PAI

Makul: Magang 1


KURIKULUM


     Dari beberapa sumber referensi yang saya baca bahwasanya banyak orang yang menganggap kurikulum berkaitan dengan bahan ajar atau buku-buku pelajaran yang harus dimiliki anak didik, sehingga perubahan kurikulum identik dengan perubahan buku pelajaran. Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku ajar, akan tetapi banyak persoalan lainnya termasuk persoalan arah dan tujuan pendidikan, persoalan materi pelajaran, serta persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan hal itu. Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani Kuno yang berasal dari kata curir dan curere. Selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan. Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun demikian, dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga kesamaan . kesamaan tersebut adalah, bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. (Sanjaya, 2008:3). Secara tminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan.

Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang Direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan Ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik Mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya ( Saylor, Alexander, Dan Lewis, 1986 ). (Hamalik, 2007:5).

Beberapa penulis kurikulum ( Johnson, 1977 dan Posner, 1982 ) Menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas , tetapi Difokuskan secara langsung pada berbagai hasil belajar yang diharapkan ( intended Learning outcomes ). Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, Dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum srbagai tujuan atau akhir Yang akan dicapai (ends). Salah satu alasan utama adalah karena hasil belajar yang Diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan Kegiatan pembelajaran. (Hamalik, 2007:6).

Sekolah bertugas memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting Bagi generasi penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggung jawab Mengidentifikasi keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan berbagai Apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak pendidik profesional Bertanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan apresiasi tersebut Sudah diinformasikan ke dalam kurikulum yang dapat disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda.

Pandangan ini berpendapat bahwa kurikuum merupakan satu kumpulan Tugas dan konsep (discrete tasks and concept) yang harus dikuasai siswa. Dalam Hal ini, diasumsikan bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri) tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah Ditetapkan sebelumnya. Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki interpretasi Behavioral yang spesifik, misalnya mempelajari suatu tugas baru atau dapat Melakukan sesuatu yang lebih baik.

Sejauh mana keberanian sekolah membangun suatu tatanan sosial yang Baru ( Dare the school build a new social order )? Pertanyaan ini merupakan judul Karya George S. Counts (1932) yang dipandang sebagai salah seorang perintis Rekonstruksionisme sosial dalam pendidikan. Ide Counts tersebut banyak Diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam dekade 1940-an dan 1950-an, yang Banyak terispirasi pemikiran Dewey.

Salah satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi kurikulum Adalah yang pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kurikulum itu Sendiri, yaitu currere. Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau Lomba (race course) kurikulum, currere merunjuk pada jalannya lomba dan Menekankan masing-masing kapasitas individu untuk merekonseptualisasi Otobiografinya sendiri.

Adapun peran kurikulum yaitu:

Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, Kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah Sebagai institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, maka dapat ditentukan Paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yakni peranan Konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan ini Sama penting dan perlu dilaksanakan secara seimbang.

1. Peranan Konservatif

2. Peranan Kritis atau Evaluatif

3. Peranan Kreatif

Tujuan dan Fungsi kurikulum

Disamping memiliki peranan, kurikulum juga mengemban fungsi tertentu. Sesuai dengan peran yang haru “dimainkan” kurikulum sebagai alat dan Pedoman pendidikan, maka isi kurikulum harus sejalan dengan tujuan Pendidikan itu sendiri. Mengapa demikian? Sebab tujuan yang harus di capai Oleh pendidikan pada dasarnya mengkristal dalam pelaksanaan perannya itu Sendiri. Dilihat dari cakupan dan tujuannya menurut McNeil (1990) isi Kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu (1) fungsi pendidikan umum (common And general education), (2) Suplementasi (suplementation), (3) eksplorasi (exploration), dan (4) Keahlian (specialization). ( Sanjaya, 2008:12 ).

Pengembangan Kurikulum

Hakikat Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting Dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan Tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan Tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus Dimiliki setiap siswa.

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

 Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada Sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Di bawah ini akan Diuraikan sejumlah prinsip yang dianggap penting.

Landasan Pengembangan Kurikulum

Ada tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni Landasan Filosofis dalam pengembangan kurikulum, Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum, Landasan Sosiologis-Teknologis dalam Pengembangan Kurikulum.Filosofis, psikologis, dan landasan sosiologis-teknologis.

Manajemen dalam Kurikulum

Pengertian Manajemen Kurikulum

Manajemen adalah proses bekerja sama antara individudan Kelompok serta sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan organisasi Adalah sebagai aktivitas majerial (Harsey, 1988:3) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi Dan bahan pelajaran serta bahan yang digunakan sebagai pedoman Penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan Tertentu (Rusman, 2009:3).

 Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan manajemen berbasis sekolah (MBS). Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, Pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum.

Prinsip Manajemen Kurikulum

 Prinsip prinsip perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun departemen pendidikan nasional, seperti USPN No.20 tahun 2003, kurikulum pola nasional pedoman penyelenggaraan program kebijaksanaan penerapan manajemen berbasis sekolah, kebijaksanaan penerapan manajemen kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan.

Fungsi manajmen Kurikulum

Meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, Pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat Ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.

Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakulikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILABUS

 Nama: Nur Khalis NIM: 12001314 Kelas: 4H/PAI Makul: Magang 1 SILABUS       Dari beberapa referensi yang sudah saya baca bahwasanya Sebelum ...