Sabtu, 28 Mei 2022

PERANGKAT PEMBELAJARAN

 

Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H/PAI

Makul: Magang 1

 

PERANGKAT PEMBELAJARAN

 

Dari beberapa referensi yang sudah saya amati bahwasanya pembelajaran merupakan sarana yang dapat memberikan Kemudahan guru dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas. Selain itu dalam perangkat pembelajaran terdapat strategi untuk belajar Dan mengajar. Perangkat pembelajaran yang baik adalah yang Direncanakan dengan seksama. Perangkat pembelajaran yang Dikembangkan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran dengan Pendekatan pembelajaran tematik integrat pendekatan pembelajaran tematik integratif. Nah, Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam kurikulum 2013 diatur dalam Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013. Standar kompetensi lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiyaan. Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Standar Isi

Standar isi merupakan kriteria mengenai ruang lingkup materi dan Tingkat kompetensi peserta didik untuk mencapai kompetensi lulusan Pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi disesuaikan dengan substansi tujuan pendidikan Nasional dalam domain sikap spiritual dan sikap sosial, pengetahuan, Dan keterampilan. Oleh karena itu, standar isi dikembangkan untuk Menentukan kriteria ruang lingkup dan tingkat kompetensi yang sesuai Dengan kompetensi lulusan yang dirumuskan pada standar kompetensi Lulusan, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Standar Proses

Standar proses merupakan kriteria mengenai pelaksanaan Pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan Dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan.

Standar Penilaian

Standar penilaian pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, Tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen Penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar Dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan Pendidikan menengah.

Kompetensi inti pada K-13 merupakan tingkat kemampuan Untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus di miliki Peserta didik pada setiap tingkat kelas. Pada ayat 1 dijelaskan bahwa Kompetensi terdiri dari kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, Pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi inti bukan hanya untuk diajarkan, melainkan untuk Dibentuk melalui pembelajaran berbagai kompetensi dasar dari Sejumlah mata pelajaran yang relevan.

Kompetensi dasar pada K-13 berisi kemampuan dan materi Pembelajaran untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan Pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti. Dalam buku Maulana Arafat kompetensi menurut Sanjaya ialah Perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dam sikap yang Direfleksi dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kompetensi dasar merupakan kemampuan minimal yang harus dicapai Peserta didik dalam penguasaan materi pelajaran yang di berikan Dalam kelas pada jenjang pendidikan tertentu. Selain itu Chamsiatin Menyatakn bahwa kompetensi dasar ialah sejumlah kemampuan yang Harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Dari berbagai uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Kompetensi dasar merupakan tuntutan dari kompetensi inti yang harus Dikembangkan peserta didik dalam pembelajaran, baik dalam sosial, Pengetahuan, dan keterampilan.

Indicator pencapaian kompetensi merupakan pengukur sikap Peserta didik melalui observasi untuk menunjukkan ketercapain Kompetensi dasar. Indicator pencapaian dikembangkan berdasarkan Pada kompetensi dasar dengan menggunakan kata kerja operasional (KKO).

Sabtu, 21 Mei 2022

KURIKULUM

 Nama: Nur Khalis

Nim: 12001314

Kelas:4H/PAI

Makul: Magang 1


KURIKULUM


     Dari beberapa sumber referensi yang saya baca bahwasanya banyak orang yang menganggap kurikulum berkaitan dengan bahan ajar atau buku-buku pelajaran yang harus dimiliki anak didik, sehingga perubahan kurikulum identik dengan perubahan buku pelajaran. Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku ajar, akan tetapi banyak persoalan lainnya termasuk persoalan arah dan tujuan pendidikan, persoalan materi pelajaran, serta persoalan-persoalan lainnya yang terkait dengan hal itu. Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani Kuno yang berasal dari kata curir dan curere. Selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan. Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun demikian, dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga kesamaan . kesamaan tersebut adalah, bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. (Sanjaya, 2008:3). Secara tminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan.

Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang Direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan Ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik Mengajar, dan hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya ( Saylor, Alexander, Dan Lewis, 1986 ). (Hamalik, 2007:5).

Beberapa penulis kurikulum ( Johnson, 1977 dan Posner, 1982 ) Menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagai aktivitas , tetapi Difokuskan secara langsung pada berbagai hasil belajar yang diharapkan ( intended Learning outcomes ). Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, Dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum srbagai tujuan atau akhir Yang akan dicapai (ends). Salah satu alasan utama adalah karena hasil belajar yang Diharapkan merupakan dasar bagi perencanaan dan perumusan berbagai tujuan Kegiatan pembelajaran. (Hamalik, 2007:6).

Sekolah bertugas memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai yang penting Bagi generasi penerus. Masyarakat, negara atau bangsa bertanggung jawab Mengidentifikasi keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan berbagai Apresiasi yang akan diajarkan. Sementara itu, pihak pendidik profesional Bertanggung jawab untuk melihat apakah skill, knowledge, dan apresiasi tersebut Sudah diinformasikan ke dalam kurikulum yang dapat disampaikan kepada anak-anak dan generasi muda.

Pandangan ini berpendapat bahwa kurikuum merupakan satu kumpulan Tugas dan konsep (discrete tasks and concept) yang harus dikuasai siswa. Dalam Hal ini, diasumsikan bahwa penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri) tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah Ditetapkan sebelumnya. Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki interpretasi Behavioral yang spesifik, misalnya mempelajari suatu tugas baru atau dapat Melakukan sesuatu yang lebih baik.

Sejauh mana keberanian sekolah membangun suatu tatanan sosial yang Baru ( Dare the school build a new social order )? Pertanyaan ini merupakan judul Karya George S. Counts (1932) yang dipandang sebagai salah seorang perintis Rekonstruksionisme sosial dalam pendidikan. Ide Counts tersebut banyak Diperjuangkan oleh Theodore Brameld dalam dekade 1940-an dan 1950-an, yang Banyak terispirasi pemikiran Dewey.

Salah satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi kurikulum Adalah yang pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kurikulum itu Sendiri, yaitu currere. Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau Lomba (race course) kurikulum, currere merunjuk pada jalannya lomba dan Menekankan masing-masing kapasitas individu untuk merekonseptualisasi Otobiografinya sendiri.

Adapun peran kurikulum yaitu:

Sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, Kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa. Apabila dianalisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan, dengan sekolah Sebagai institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, maka dapat ditentukan Paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yakni peranan Konservatif, peranan kritis atau evaluatif, dan peranan kreatif. Ketiga peranan ini Sama penting dan perlu dilaksanakan secara seimbang.

1. Peranan Konservatif

2. Peranan Kritis atau Evaluatif

3. Peranan Kreatif

Tujuan dan Fungsi kurikulum

Disamping memiliki peranan, kurikulum juga mengemban fungsi tertentu. Sesuai dengan peran yang haru “dimainkan” kurikulum sebagai alat dan Pedoman pendidikan, maka isi kurikulum harus sejalan dengan tujuan Pendidikan itu sendiri. Mengapa demikian? Sebab tujuan yang harus di capai Oleh pendidikan pada dasarnya mengkristal dalam pelaksanaan perannya itu Sendiri. Dilihat dari cakupan dan tujuannya menurut McNeil (1990) isi Kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu (1) fungsi pendidikan umum (common And general education), (2) Suplementasi (suplementation), (3) eksplorasi (exploration), dan (4) Keahlian (specialization). ( Sanjaya, 2008:12 ).

Pengembangan Kurikulum

Hakikat Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting Dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan Tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan Tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus Dimiliki setiap siswa.

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

 Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada Sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Di bawah ini akan Diuraikan sejumlah prinsip yang dianggap penting.

Landasan Pengembangan Kurikulum

Ada tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni Landasan Filosofis dalam pengembangan kurikulum, Landasan Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum, Landasan Sosiologis-Teknologis dalam Pengembangan Kurikulum.Filosofis, psikologis, dan landasan sosiologis-teknologis.

Manajemen dalam Kurikulum

Pengertian Manajemen Kurikulum

Manajemen adalah proses bekerja sama antara individudan Kelompok serta sumber daya lainnya dalam mencapai tujuan organisasi Adalah sebagai aktivitas majerial (Harsey, 1988:3) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi Dan bahan pelajaran serta bahan yang digunakan sebagai pedoman Penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan Tertentu (Rusman, 2009:3).

 Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum

Manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan manajemen berbasis sekolah (MBS). Ruang lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, Pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum.

Prinsip Manajemen Kurikulum

 Prinsip prinsip perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun departemen pendidikan nasional, seperti USPN No.20 tahun 2003, kurikulum pola nasional pedoman penyelenggaraan program kebijaksanaan penerapan manajemen berbasis sekolah, kebijaksanaan penerapan manajemen kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan.

Fungsi manajmen Kurikulum

Meningkatkan efesiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, Pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat Ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.

Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakulikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.


Jumat, 13 Mei 2022

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H/PAI

Makul: Magang 1



          Dari beberapa referensi/buku yang sudah saya amati/baca bahwasanya Kata “character” berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggabar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal.Berakar dari pengertian seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan suatu pandangan bahwa karakter adalah pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang. Setelah melewati tahap anak-anak, seseorang memiliki karakter, cara yang dapat di ramalkan bahwa karakter seseorang berkaitan dengan perilaku yang ada disekitar dirinya. Maknanya dari pengertian pendidikan karakter yaitu merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian,bertanggung jawab. Lebih lanjut Williams (2000) menjelaskan bahwa makna dari pengertian pendidikan karakter tersebut awalnya di gunakan oleh Commission on Character Education di Amerika sebagai suatu istilah payung yang meliputi berbagai pendekatan, filosofi, dan program.pemecahan masalah, pembuatan keputusan, penyelesaian konflik meruoakan aspek yang penting dari pengembangan karakter moral. Oleh karena itu, didalam pendidikan karakter semestinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sifat-sifat tersebut secara langsung. Nah, selain itu adapun fungsi pendidikan karakter yaitu segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Pendidikan karakter berfungsi :

- Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.

- Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur.

- Menigkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Nah selain dari fungsinya, Pendidikan karakteristik juga memiliki tujuan yang mana tujuannya yaitu:

Menurut Lickona ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:

- Merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian Yang baik dalam kehidupannya.

- Merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik

- Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinyandi tempat Lain.

- Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup Dalam masyarakat yang beragam.

- Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral sosial, seperti Ketidaksopaan, ,kekerasan,pelanggaran kegiatan seksual, dan etos Kerja (belajar) yang rendah.

- Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja.

- Mengajarkan nilai-nilaai budaya merupakan bagian dari kerja peradapan.

Pendidikan bukan hanya berfungsi sekedar berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kemampuan semata, melainkan juga berfungsi untuk membentuk watak dan peradapan bangsa yang bermatabat.Dari hal ini maka sebenarnya pendidikan watak (karakter) tidak bisa ditinggalkan dalam fungsinya dalam berfungsinya pendidikan.Oleh karena itu, sebagai fungsi yang melekat pada keberadaan pendidikan nasional untuk membentuk watak dan peradapan bangsa, pendidikan karakter merupakan manisfestasi dari peran tersebut. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi tugas dari semua pihak yang terlibat dalam usaha pendidikan(pendidik).

Secara umum

1) Karakteristik anak usia sekolah dasar (SD)

Anak-anak usia sekolah ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-Anak yang usianya lebih muda. Ia senang bermain, senang bergerak, senang bekerja Dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Oleh sebab itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung Unsur permainan, mengusahakan siswa perpindah atau bergerak, bekerja atau belajar Dalam kelompok, serta memberikan kesempatan untu terlibat langsung dalam Pembelajaran.

Menurut Havighurst, tugas perkembangan anak usia sekolah dasar meliputi:

- Menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas Fisik

- Membina hidup sehat

- Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok

- Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin

- Belajar membaca, menulis, dan berhitung agar mampu berpartisipasi dalam Masyarakat

- Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berpikir efektif

- Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai

- Mencapai kemandirian pribadi

2) Karakteristik anak usia sekolah menengah (SMP)

Terdapat sejumlah karakteristik yang menonjol pada anak usia SMP ini, yaitu:

- Terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan

- Mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder.

- Kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dengan keinginan Bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan Dan bantuan dari orang tua.

- Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan Kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa

- Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat kemurahan Atau keadilan tuhan

- Reaksi dan ekspresi emosi masih stabil

- Mulai mengembangkan standard dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang Sesuai dengan dunia social

- Kecenderungan minat dan pilihan karir relative sudah lebih jelas.

3) Karakteristik anak usia remaja

Masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri (ego identity). Masa Remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu:

- Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya

- Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang Dijunjung tinggi oleh masyarakat

- Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif.

- Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.

- Memilih dan mempersiapkan karir dimasa depan sesuai dengan minat dan Kemampuannya

- Mengembangkan sikaf positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga, dan Memiliki anak.

- Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan Sebagai warga negara

- Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.

- Memperoleh seperangkat nilai dan system etika sebagai pedoman dalam Bertingkah laku

- Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas

Adapun faktor yang mempengaruhi karakteristik peserta Yaitu Faktor faktor yang berasal dari dalam diri individu, Faktor yang berasal dari luar diri individu, dan Faktor-faktor umum.

Faktor –faktor yang berasal dari dalam diri individu:

- Bakat atau pembawaan

- Sifat-sifat keturunan

- Dorongan dan instink

Faktor yang berasal dari luar diri individu:

- Makanan

- Ekonomi

- Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga

Faktor-faktor umum:

- Intelegensi

- Kesehatan

- Ras

Nah, adapun Perbedaan Individu Peserta Didik Secara umum, perbedaan individual dibedakan atas dua, yaitu perbedaaan secara vertikal dan perbedaan secara horizontal.Perbedaaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti bentuk, tinggi, besar, kekuatan, dan sebagainya.Sedangkan perbedaan horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi, temperamen, dan sebagainya.

MUNGKIN HANYA ITU YANG DAPAT SAYA SAMPAIKAN DALAM MINGGU INI, SEE YOU NEXT WEEK!


SILABUS

 Nama: Nur Khalis NIM: 12001314 Kelas: 4H/PAI Makul: Magang 1 SILABUS       Dari beberapa referensi yang sudah saya baca bahwasanya Sebelum ...