Nama : Nur Khalis
Nim : 1201314
Kelas : 4H
Kultur Sekolah
Berbicara tentang kultur sekolah yang
saya pahami kultur sekolah merupakan kreasi bersama seluruh masyarakat sekolah
yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang
dihadaqpi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil dan mandiri
Dalam menunjang keberhasilan tujuan yang
diharapkan tersebut, kultur sekolah merupakan bentuk komitmen bersama yang
dipakai untuk melakukan hidup bersama serta diterapkan memecahkan
kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas
dan berahlak budaya sekolah sebagai sebuah sistem orientasi bersama
(norma-norma, nilai-nilai, dan asumsi-asumsi dasar) yang dipegang oleh warga
sekolah yang akan menjaga kebersamaan unit dan memberikan identitas yang
berbeda dari sekolah lain.
Jadi dapat saya pahami kultur sekolah
sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat
kebersamaan mereka sebagai suatu warga masyarakat sekolah.Dengan kata lain
dapat dikatakan bahwa budaya sekolah adalah suatu pola pendapat-pendapat dasar,
nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan yang dipegang bersama
oleh seluruh warga sekolah, yang diyakini dan telah terbukti dapat dipergunakan
untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru
dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi tersebut dapat
diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka memiliki pandangan yang
tepat bagaimana seharusnya mereka memahami, berpikir, merasakan dan bertindak
menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada Jadi kultur sekolah dapat
diartikan sebagai kualitas lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang
dirasakan oleh seluruh orang Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam
konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur
organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas
kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan
nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk
bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar
dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah Terciptanya
kultur sekolah tidak lain adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah meliputi
kepala sekolah, guru, siswa, karyawan maupun orang tua siswa, hanya akan
terjadi manakala kualifikasi budaya sekolah tersebut sehat, solid, kuat,
positif, dan profesional.Artinya, bahwa budaya sekolah menjadi komitmen luas
bagi warga dan menjadi kepribadian sekolah, serta didukung oleh stakeholder
sekolah. Dengan budaya sekolah yang sehat, suasana kekeluargaan, kolaborasi,
semangat untuk maju, dorongan bekerja keras dan kultur belajar mengajar yang
bermutu dapat diciptakan. Siswa dan guru akan saling bekerjasama untuk
berperilaku yang baik, bekerja maksimal, meletakkan target tertinggi serta
mewaspadai adanya kultur negatif yang menyimpang dari norma-norma, nilai-nilai,
dan keyakinan yang menjadi komitmen bersama.Perbaikan sistem persekolahan pada
intinya adalah membangun sekolah dengan kekuatan utama sekolah tersebut. Perbaikan
mutu sekolah perlu memahami budaya sekolah sebagai modal dasarnya. Melalui pemahaman
budaya sekolah, maka aneka permasalahan sekolah dapat diketahui dan
pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. Setiap sekolah memiliki keunikan
berdasarkan pola interaksi komponen sekolah secara internal dan eksternal. Oleh
sebab itu, dengan memahami ciri-ciri kultural sekolah akan dapat diusahakan
tindakan nyata untuk perbaikan mutu.
Bagi sebuah lembaga khususnya sekolah
kultur ibarat nyawa manusia.Tanpa kultur sekolah seperti raga tanpa nyawa.
Kultur memiliki peran yang sangat strategis dalam organisasi karena menentukan
keberhasilan organisasi tersebut mulai dari kepala sekolah, guru, stap karyawan
hingga pada siswa. Kultur sekolah diyakini memiliki peran dalam menghasilkan
kinerja yang terbaik pada masing-masing individu, kelompok kerja atau unit
kerja sekolah. Oleh karena itu, sekolah sebagai satu institusi, perlu membangun
hubungan sinergitas antar warga sekolah yang positif agar memperbaiki kualitas
sekolah yang bersangkutan. Beberapa kajian menunjukkan salah satu faktor
penghambat pencapaian prestasi sekolah ialah kultur atau budaya sekolah. Oleh
karena itu, untuk memperbaiki kualitas sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan
budaya sekolah terlebih dahulu jika mutu pendidikan ingin diperbaiki.
Kultur sekolah berperan
dalam mengembangkan prestasi siswa melalui nilai-nilai utama dan nilai
pendukung; yaitu nilai berprestasi,kedisiplinan,kebersihan dan religi. Adapun
nilai pendukung seperti tanggung jawab,kejujuran, toleransi, yang dibudayakan
melalui tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik oleh pendidik.gambaran
tentang kultur dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati
dan sebagian lainnya tidak diamati.Dari pengelompokan ini maka dapat dipisahkan
antara kultur yang dapat dilihat dengan yang tidak dapat dilihat, dan lapisan
yang bisa diamati antara lain desain arsitektur gedung, tata ruang, desain
eksterior dan interior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita,
kegiatan upacara, ritual, simbol-simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar
yang dipasang, tanda-tanda yang dipasang, sopan santun, cara berpakaian warga
sekolah. Sedangkan hal-hal di balik itu tidak dapat diamati, tidak kelihatan
dan tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama ini berintikan norma
perilaku bersama warga organisasi yang berupa norma-norma kelompok, cara-cara
tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki suatu kelompok masyarakat
(termasuk sekolah). Norma-norma perilaku ini sulit diubah, yang biasa disebut
sebagai artifak. Lapisan kedua merupakan nilai-nilai bersama yang dianut
kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar.
Lapisan kedua ini semuanya tak dapat diamati karena terletak dalam kehidupan
bersama. Kultur pada lapisan kedua ini sangat sulit atau bahkan sangat kecil
kemungkinannya untuk diubah serta memerlukan waktu yang lama.
Kultur sekolah beroperasi
secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara
turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal.
Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah. Nilai-nilai
baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila
berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan
dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar