Sabtu, 18 Juni 2022

SILABUS

 Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H/PAI

Makul: Magang 1


SILABUS


      Dari beberapa referensi yang sudah saya baca bahwasanya Sebelum membahas rencana pembelajaran, terlebih dahulu harus dipahami tentang silabus dan dan langkah pengembangannya, karena rencana pengajaran dikembangkan berdasarkan rumusan silabus yang telah ditetapkan. Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai ”garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi palajaran”( Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam rangkapencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Yulaelawati, 2004:123)[1] Seperti kita ketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan standar kompetensi yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian standar kompetensi. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan: - Apa yang akan dihajarkan (standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pelajaran)? - Bagaimana cara mengajarkannya (pengalaman belajar, metode, media)- Bagaimana cara mengetahui pencapaiannya (evaluasi, atau sistem penilaian)?Dari gambaran tersebut dapat dinyatakan bahwa silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Selain itu, silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi rencana pembelajaran.

Komponen-komponen Silabus

Dalam buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sering disebut dengan singkatannya yaitu KTSP, dikatakan bahwa format silabus paling tidak memuat sembilan komponen yaitu :

1. Identifikasi

Pada komponen identifikasi adalah nama sekolah, nama mata pelajaran, kelas, dan semester.

2. Standar Kompetensi

Pada Komponen standar kompetensi, yang perlu dikaji adalah standar kompetensi mata pelajaran yang bersangkutan dengan memperhatikan hal-hal berikut.

- Urutan berdasar hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi

- Keterikatan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran.

- Keterikatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran

3. Kompetensi Dasar

Pada komponen kompetensi dasar, yang perlu dikaji adalah kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut.

- Urutan berdasar hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi

- Keterikatan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran

- Keterikatan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran

4. Materi Pokok

Pada komponen materi pokok, yang dilakukan adalah mengdidintifikasi materi pokok dengan mempertimbangkan:

- Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spriritual peserta didik;

- Kebermanfaatan bagi peserta didik;

- Struktur keilmuan;

- Kedalaman dan keluasan materi

- Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan

4. Pengalaman Belajar

Pada komponen pengalaman belajar, yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu berikut.

- Pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik,

- Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik,

- Rumusannya mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik

5. Indikator

Pada komponen indikator, yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu berikut.

- Indikator merupakan pembelajaran dari KD yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan/atau respons yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik.

- Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

- Rumusan indikator menggunakan rumusan kerja operasional yang terukur dan /atau dapat diobservasi.

- Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

7. Jenis Penilaian

Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek stsu produk, penggunaan portofolio, penilaian diri, dan lain-lain. Jenis penilaian yang dipilih bergantung pada rumusan indikatornya.

8. Alokasi Waktu

Pada komponen alokasi waktu, hal-hal berikut perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut.

- Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.

- Alokasi waktu yang dicantumkandalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar.

9. Sumber belajar

Pada komponen sumber belajar, hal-hal berikut yang perlu dipertimbangkan adalah.

- Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

- Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

- Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.


Sabtu, 11 Juni 2022

SISTEM EVALUASI

 Nama : Nur Khalis

Nim : 12001314

Kelas : 4H

Prodi : PAI

Makul : magang 1


SISTEM EVALUASI


Dari berbagai sumber yang telah saya baca dan pahami dapat di simpulkan bahwasanya Sistem Evaluasi mencangup banyak konsep Dasar antara lainEvaluasi memang cukup sulit untuk dijelaskan. Itu sebabnya, para ahli turut menjelaskan, dengan pendapat serta pandangan masing-masing.Secara garis besar, pengertian evaluasi dalam pendidikan adalah penilaian terhadap suatu kualitas Evaluasi juga dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan.Maka perlu dilakukan proses evaluasi yang sistematis, guna menentukan sejauh mana tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.

Jenis Evaluasi

Evaluasi memiliki dua jenis berbeda, yakni formatif dan sumatif. Berikut pembahasan tentang jenis evaluasi, selengkapnya:

1. Evaluasi Formatif

Penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, dari kegiatan atau program kerja yang telah dilaksanakan.Biasanya, evaluasi ini dilakukan secara rutin, setiap bulan atau per tahun.Sesuai dengan keperluan informasi hasil penilaian, di mana manfaatnya, memberikan umpan balik kepada manajer program, terkait kemajuan yang telah dicapai.Selain itu, juga untuk mengetahui, apa saja hambatan yang dihadapi selama kegiatan pun program kerja berlangsung.

2. Evaluasi Sumatif

Penilaian terhadap hasil yang telah dicapai dari kegiatan atau program kerja, secara keseluruhan, dari awal hingga akhir.Evaluasi jenis ini dilakukan di akhir kegiatan, dengan jangka waktu yang ditetapkan.Jika program kerja atau kegiatan memiliki jangka waktu enam bulan, maka evaluasi sematif, juga dilakukan menjelang akhir bulan tersebut.Sementara untuk evaluasi dari dampak kegiatan atau program kerja, bisa dilakukan usai proyek berakhir, dengan memperhitungkan efeknya yang sudah nyata terlihat.Mengapa ada tujuan evaluasi? Sebab, kegiatan ini dilakukan bukan tanpa tujuan. Ada pencapaian yang ingin tuju.Secara khusus, terdapat beberapa tujuan evaluasi, antara lain:

1.Mengetahui sebaik apa tingkat penguasaan seseorang terhadap kompetensi yang telah ditetapkan.

2.Mengetahui kesulitan apa saja yang dialami seseorang dalam kegiatan, hingga bisa dilakukan diagnosis, serta memungkinkan remedial teaching (perbaikan).

3.Mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas suatu metode, media, serta sumber daya lain, dalam pelaksanaan kegiatan.

Sebagai hasil dan informasi penting bagi pelaksana evaluasi, untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

4.Menjadikannya sebagai acuan, di masa mendatang, dalam mengambil keputusan.

Fungsi Evaluasi

Fungsi evaluasi bermanfaat bagi pihak yang melakukan pun yang dievaluasi, seperti beberapa di antaranya:

1. Diagnosa

Bertujuan untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan seseorang dalam bidang kompetensi tertentu. Contoh kelebihan dan kekurangan seorang siswa, dalam mata pelajaran yang ia dapat di sekolah.

2. Penempatan

Bertujuan untuk mengetahui di mana posisi terbaik seseorang dalam suatu bidang tertentu. Contoh, posisi terbaik apa untuk seorang karyawan, sesuai bidang, di perusahaan.

3. Pengukuran Keberhasilan

Mengukur tingkat keberhasilan suatu program, termasuk metode dan sarana yang digunakan, serta pencapaian tujuan.

4. Selektif

Menyeleksi seseorang, apakah memiliki komptensi sesuai standar yang ditetapkan. Contoh, menentukan seseorang diterima kerja atau tidak, naik jabatan atau tidak, dan lainnya

Metode Evaluasi

Evaluasi bisa dilakukan dengan berbagai metode, tergantung pada bidang yang akan dievaluasi, serta hasil yang di-inginkan.

1. Metode 360 Derajat

Mendapatkan umpan balik (feecback) ganda, yakni selain dari pimpinan perusahaan/instansi, juga berasal dari kolega hingga konsumen.

Prosesnya dilakukan setiap tahun, kepada seluruh elemen organisasi, dengan tujuan:

1.Memberikan umpan balik soal kelebihan dan kekurangan kinerja organisasi;

2.Mengenali arah strategis pengembangan organisasi;

3.Meningkatkan kolaborasi, saling pengertian antara unit organisasi;

4.Memberikan penghargaan dan insentif atas pencapaian prestasi; serta

5.Mengembangkan pembelajaran dalam hal keterbukaan—menerima kritik.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan, dalam metode evaluasi 360 deraja.

Anda butuh informasi dari para konsumen internal dan eksternal, karyawan unit organisasi, serta jajaran manajemen, karena proses evaluasi perlu keterlibatan seluruh stakeholder.

Pengumpulan Informasi

Ada lima metode yang perlu dilakukan

1.Evaluasi dari pelanggan eksternal: melakukan survei kepuasan pelanggan tentang kemudahan akses, sisi administrasi, kenyamanan lingkungan, sikap karyawan, hingga cara menyikapi outcome. Dengan menyediakan kotak kritik dan saran.

2.Evaluasi antar-unit internal: mengevaluasi kinerja, meliputi sepuluh hal di antaranya, kualitas pelayanan, partisipasi, profesionalisme, peningkatan kegiatan, dan semangat kelompok. Setiap poin diberi nilai 1 (terburuk) hingga 10 (sempurna).

3.Evaluasi mandiri: mewajibkan setiap bidang dalam organisasi melakukan evaluasi internal, terhadap kinerja masing-masing (self-evaluation), menggunakan penilaian serta alat yang sama, dengan evaluasi antar-unit.

4.Evaluasi manajemen: dilakukan oleh tim—manajer fungsional, manajer umum, dan pimpinan eksekutif—dengan memberikan feedback atas capaian yang berada di bawah tanggung jawabnya.

5.Evaluasi manajemen senior: dilakukan oleh seluruh unit organisasi terhadap kinerja, para manajer senior, termasuk pimpinan tertinggi. Dilakukan kepada kepemimpinan, strategi perencanaan, komunikasi, gaya manajemen, hubungan eksternal, hingga semangat kelompok.

Tahap Evaluasi

Evaluasi memiliki tahapan yang harus diikuti, meski tak selalu sama, tetapi berbagai tahapan penting untuk dilakukan, berkaitan dengan hasil akhir dari proses evaluasi itu sendiri.

1. Menentukan Apa Saja yang Akan Dievaluasi

Dapat mengacu pada suatu program kerja atau kegiatan lainnya, di mana terdapat faktor-faktor yang bisa serta perlu dievaluasi.

Tetapi secara umum, yang menjadi prioritas adalah hal-hal yang menjadi kunci utama (key-success).

2. Merancang Kegiatan Evaluasi

Desain, evaluasi seperti apa yang akan dilaksanakan, agar data-data yang dibutuhkan, tahapan kerja, serta siapa saja yang dilibatkan, dan apa saja yang dihasilkan, menjadi jelas, sebelum evaluasi berlangsung.

3. Pengumpulan Data Evaluasi

Pengumpulan data dapat dilakukan secara efisien dan efektif, sesuai kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku, dan kebutuhan serta kemampuan.

4. Analisis Data dan Pengolahannya

Menganalisis data yang diterima, bisa berupa pengelompokan agar lebih mudah di-analisis dengan menggunakan alat penganalisis yang sesuai.

Sehingga menghasilkan fakta terpercaya, dan hasil analisis, kemudian dapat dibandingkan dengan harapan atau rencana awal.

5. Pelaporan Hasil Evaluasi

Tahapan evaluasi terakhir adalah pelaporan hasil, untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan.

Sebab, hasil evaluasi itu harus di-dokumentasikan secara tertulis, agar bisa dibaca dan bermanfaat sebagaimana mestinya.

Contoh Evaluasi

Agar lebih mudah memahami evaluasi, mari menyelami beberapa contoh, lengkap dengan penjelasannya berikut ini:

Tes Objektif

Contoh evaluasi pembelajaran disebut juga dengan dikotomi, karena jawabannya antara benar atau salah, dan penilaian skornya antara 1 atau 0.Disebut objektif, karena siapapun yang mengoreksi jawaban pada tes ini, hasinya akan tetap sama, sebab terdapat kunci jawaban; jelas.

Terdapat beberapa bentuk dari tes jenis ini, di antaranya:

• Benar-salah,

• Pilihan ganda, dan

• Mencocokan hingga melengkapi jawaban atau jawaban singkat.

Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Whiterington, soal evaluasi pembelajaran.Itulah penjelasan soal pengertian evaluasi, hingga tahapan-tahapannya. Di mana secara umum, evaluasi dapat diartikan sebagai proses sistematis.Dalam membuat, memeriksa, menentukan, atau menyediakan informasi, terhadap program kerja pun kegiatan yang dilakukan.Tujuannya, lagi-lagi untuk mengetahui, sejauh mana tujuan dari program yang telah dilakukan tercapai. Sekian, semoga bermanfaat.


Sabtu, 04 Juni 2022

STRATEGI PEMBELAJARAN

 Nama: Nur Khalis

NIM: 12001314

Kelas: 4H

Makul: Magang 1


Strategi Pembelajaran


Dari beberapa buku/referensi yang sudah saya amati bahwasanya strategi pembelajaran adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan. Strategi yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran.

Dimana pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efesiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran adalah pendidik (perorangan dan atau kelompok) serta peserta didik (perorangan, kelompok dan atau komunitas) yang berinteraksi edukatif antara satu dengan yang lainnya. Isi kegiatannya adalah bahan/materi belajar yang bersumber dari kurikulum suatu program pendidikan. Proses kegiatan adalah langkah-langkah yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Sumber pendukung kegiatan pembelajaran mencakup fasilitas dan alat-alat bantu pembelajaran.

Dengan demikian strategi pembelajaran mencakup penggunaan pendekatan, metode dan teknik, bentuk media, sumber belajar, pengelompokan peserta didik, untuk mewujudkan interaksi edukasi antara pendidik dengan peserta didik, antar peserta didik, dan terhadap proses, hasil, dan/atau dampak kegiatan pembelajaran.

Dalam hal ini, strategi pembelajaran di artikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu, yakni tujuan pembelajaran.

Stretegi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh dalam suatu sistem pembelajaran yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang dijabarkan dari pendangan falsafah atau teori belajar tertentu. Berikut pendapat beberapa ahli berkaitan dengan pengertian strategi pembelajaran.

Menurut Kozma dalam Majid (2015:7) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan Wina Sanjaya dalam Majid (2015 menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan atau rangkaian kegiatan yang dipilih guru mencakup penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya yang ditujukan untuk siswa, yang bertujuan agar tercapainya tujuan pembelajaran.

Hal ini bahwa berarti di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja, belum sampai tindakan. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya arah dari semua keputusan penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar, semua diarahkan dalam pencapaian tujuan.

Jenis jenis Strategi Pembelajaran

Strategi Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk didalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktik, pengajaran eksplisit, praktek dan latihan, serta demonstrasi. Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangankan ketrampilan langkah demi langkah.

Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (Indirect Instruction)

Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang tinggi dalam observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis.Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resourse person).Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan memungkinkan memberikan umpanbalik kepada siswa ketika meraka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mengisyaratkan bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.

Strategi Pembelajaran Interaktif (Interactive Intruction)

Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi diantara peserta didik. Seaman dan Fellenz (1989) mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dalam berfikir.

Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokan dan metode-metode interaktif. Didalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengkerjaan tugas berkelompok, dan kerja sama siswa secra berpasangan.

Strategi Pembelajaran melalui Pengalaman (Experiential Learning)

Strategi pembelajaran melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuensi induktif, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada aktivitas.Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar, dan bukan hasil belajar.

Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.

Strategi Pembelajaran Mandiri

Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagan dari kelompok kecil. Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta belum dewasa, sulit menggunakan pembelajaran mandiri.

Istilah Terkait dalam Strategi Pembelajaran

Dikenal beberapa istilah dalam pembelajaran yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah tersebut yaitu sebagai berikut:

Pendekatan Pembelajaran

Istilah pendekatan berasal dari bahasa inggris “approach” yang memiliki beberapa arti, diantaranya diartikan dengan “pendekatan”. Dalam dunia pengajaran, kata approach lebih tepat diartikan a way of begining something (cara memulai sesuatu). Oleh karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan sebagai “cara memulai pendekatan”.

Pengertian pendekatan pembelajaran secara tegas belum ada kesepakatan dari para ahli pendidikan. Namun beberapa ahli mencoba menjelaskan tentang pendekatan pembelajaran (instructional approach), misalnya yang ditulis oleh Gladene Robertson dan Hellmut Lang (1984: 5). Menurutnya, pendekatan pembelajaran dapat dimaknai menjadi 2 pengertian, yaitu pendekatan pembelajaran sebagai dokumen tetap, dan pendekatan pembelajaran sebagai kajian yang terus berkembang. Pendekatan pembelajaran sebagai dokumen tetap dimaknai sebagai suatu kerangka umum dalam praktek profesional guru, yaitu serangkaian dokumen yang dikembangkan untuk mendukung pencapaian kurikulum. Hal tersebut berguna untuk:

- Mendukung kelancaran guru dalam proses pembelajaran;

- Membatu para guru menjabarkan kurikulum dalam praktik pembelajaran di kelas;

- Sebagai panduan bagi guru dalam menghadapi perubahan kurikulum; dan

- Sebagai bahan masukan bagi para penyusunan kurikulum untuk mendesain kurikulum dan pembelajaran yang terintregasi.

Pendekatan pembelajaran sebagai bahan kajian yang terus berkembang, oleh Gladene Robertson dasn Hellmet Lang dimaknai selain sebagai kerangka umum untuk praktek profesional guru, juga dimaksudkan sebagai studi komperhensif tentang praktik pembelajaran maupun petunjuk pelaksanaannya. Selain itu, dokumen tersebut juga dimaksudkan untuk mendorong para guru agar:

- Mengkaji lebih jauh tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lainnya;

- Menjadi bahan refleksi tentang pembelajaran yang sudah dilakukannya:

- Merupakan seni, seperti hanyya ilmu mengajar yang terus berkembang: dan

- Sebagai katalisator untuk mengembangkan profesional guru lebih lanjut.

Pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang skenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Diagram berikut memperliharkan dengan lebih jelas tentang hubungan antara model pembelajaran, pendekatan, stategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan keterampilan mengajar.

Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat diisi oleh beragam muatan mata pelajaran, sesuai dengan karakteristik kerangka dasarnya. Model pembelajaran ini dapat muncul dalam beragam bentuk dan variasinya sesuai dengan landasan filosofis dan pedagogis yang melatar belakanginya.

Arends (1997) menyatakan “ the term teaching model refers to a particural approach to instruction that includes its goals, syntax environment, and management system” (istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengelolaannya). Dengan demikian, maka model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.

Model pembelajaran mempunyai ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode atau prosedue, ciri tersebut ialah :

- Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.

- Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar.

- Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tsb dapat dilaksanakan dengan berhasil.

- Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Metode Pembelajaran

Metode menurut J.R. david dalam Teaching Strategies for College Class Room (1976) ialah ”a way in achieving something” (cara untuk mencapai sesuatu). Untuk melaksanakan suatu strategi, digunakan seperangkat metode pengeajaran tertentu. Dalam pengertian demikian maka metode pengajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi pembelajarann. Unsur seperti sember belajar, kemampuan guru dan siswa, media pendidikan, materi pengajaran, organisasi, waktu tersedia, kondisi kelas, dan lingkungan merupakan unsur-unsur yang mendukung strategi pembelajaran. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah at-thariq (jalan-cara).

Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas dimana guru dan siawa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tetutup kemungkinan beberapa metode berbeda dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

Teknik Pembelajaran

Metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang siswanya jumlah siswanya terbatas. Demikian pula dengan pengunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik, meskipun dalam koridor metode yang sama.

Taktik Pembelajaran

Taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalnya, terdapat dua orang yang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi , semetara itu yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang tersebut.

Dalam gaya pembelajaran, akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru. Hal ini sesuai dengan kemampuan, pengalamann, dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu dan sekaligus juga seni (kiat).

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh, maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran.

Unsur-unsur Strategi Pembelajaran

Pembuatan suatu strategi pembelajaran meliputi keseluruhan penggunaan infoemasi yangg telah dikumpulkan dan menghasilkan suatu rencana yang efektif untuk menyajikan pengajaran bagi peserta didik. Kegiatan belajar merupakan suatu proses penyampaian informasi oleh fasilitator yaitu guru kepada sasaran kegiatan tersebut yaitu siswa. Dalam menyampaikan informasi tersebut diperlukan suatu strategi supaya informasi yang diberikan dapat diserap oleh siswa secara maksimal.

Rangkaian/keurutan dan pengelompokan konten

Rangkaian/keurutan konten

Rangkaian/keurutan konten merupakan komponen pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan strategi pembelajaran. Dalam elemen ini pengajar mengelompokan konten yang merujuk pada keurutan sistem. Pengelompokan dimulai dari yang rendah ke tinggi. Dimulai dari kiri ke kanan semakin meninggi tingkatannya.

Pengelompokkan Pembelajaran

Hal yang tak kalah pentingnya dengan elemen nomor satu ini adalah pengelompokkan pembelajaran. Disini pengajar diminta untuk mengelompokkan kegiatan. Apakah akan menyampaikan informasi dalam satu waktu atau mengelompokkan beberapa tujuan pembelajaran yang saling berkaitan. Untuk menentukan hal itu perlu diperhatikan:

Tingkat usia para peserta didik

Kompleksitas materi

Jenis pembelajaran yang berlangsung

Seberapa bervariasimya kegiatan pengajaran Jumlah waktu yang diperlukan untuk menyampaikan tujuan

Komponen Belajar

Elemen berikutnya adalah penjelasan tentang komponen pembelajaran untuk seperangkat beba pembelajaran. Mengajar merupakan hal yang disengaja dirancang sedemikian rupa guna untuk penyampaian informasi dari guru ke siswa untuk mendukung proses pembelajaran internal.


SILABUS

 Nama: Nur Khalis NIM: 12001314 Kelas: 4H/PAI Makul: Magang 1 SILABUS       Dari beberapa referensi yang sudah saya baca bahwasanya Sebelum ...